MELONGOK EKSOTISME “BETOH SO’ON” – SOLOR- CERMEE

Solor- Bondowoso, Berita tentang Solor, benar- benar memancing rasa penasaran. Destinasi wisata alam yang berlokasi di Kecamatan Cermee – Bondowoso ini belakangan menjadi buah bibir dan menjadi salah satu tujuan favorit para pelancong. Tak hanya dari kawasan Bondowoso sendiri, konon area ini juga mulai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Betoh So’on adalah nama yang belakangan semakin santer di sebut oleh banyak orang yang punya hobi traveling dan menjadi icon Kecamatan Cermee Kabupaten Bondowoso.

http://i1379.photobucket.com/albums/ah128/m_munir1/3_zps7b3dtmoq.jpg

Menjadi semakin heboh karena beberapa informasi menyamakan penampakan “Betoh So’on” di Desa Solor tersebut sebagai mirip Stonehenge yang amat populer di Ingris. Yakni gugusan batu yang tinggi menjulang dengan susunan sedemikian rupa sebagai peninggalan peradaban prasejarah paling sohor di Britania.

Referensi kami dari beberapa informasi online membuat rasa penasaran kian memuncak, detil panampakan Stonehenge dan “Betoh So’on” memang mengandung kemiripan. Terlepas dari kontroversi yang melingkupinya, Dinas Pariwisata Bondowoso sudah kadung mempromosikannya sebagai situs megalitikum peninggalan peradaban manusia prasejarah di Bondowoso. Meski beberapa pihak meragukan bahkan menyangkal, karena belum ada penelitian resmi yang menyatakan bahwa itu memang betul- betul megalitikum.

Hari libur, Jum’at pagi (03/04/2015)- menjadi moment yang tepat bagi kami untuk mengobati rasa penasaran. Sehari sebelumnya beberapa karyawan BKD, dikomandani oleh Kepala Bidang Informasi Kepegawaian (Drs. Juni Sukarno, MM), memantapkan rencana untuk menyambangi Betoh So’on”.

Pagi betul sudah siap di kantor, belasan karyawan BKD lintas bidang yang sama- sama ngebet dan diliputi rasa penasaran berangkat ke tujuan. Beruntung ada salah satu rekan (Hendra. SSTP) yang tau betul jalur menuju lokasi karena rumahnya kebetulan di Kecamatan setempat.

Memasuki jalur menuju desa Solor, jalanan mulai terasa seru, rute aspal, batu dan jalan tanah desa sepanjang belasan kilometer dengan topografi menanjak, berkelok dan menurun harus dilalui. Beruntung cuaca hari itu cukup mendukung. Karena jika hujan maka tingkat kesulitan akan semakin tinggi karena sebagian besar jalan tanah yang kira- kira akan sangat lengket bila bercampur air.

Panorama alam memukau, deretan tebing, bukit menghijau, lembah sepanjang sisi kanan jalan dan vegetasi khas pegunungan yang tampak segar menjadi pemandangan yang cukup menyejukkan. Sayang masing-masing dari kami mengendarai kendaraan seadanya. Mestinya yang lebih pas adalah sepeda motor jenis trail, mengingat tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Tak patah arang, dengan tertatih tatih, setelah lebih dari satu jam perjalanan sampailah kami di area Betoh So’on. Cukup memukau, tidak mengherankan memang jika ada yang mengatakan batu ini sebagai megalitikum dan mirip dengan Stonehenge.
Gugusan batu tinggi menjulang dan nampak seperti diatur secara sistematis, kenapa? Karena diantara semua batu yang ada pada bagian ujung seperti sengaja diletakkan batu lain yang bentuknya serupa sehingga tampak seperti sengaja ditata dengan maksud tertentu.

Sekali lagi, lepas dari segala kontroversi yang mengatakan bahwa batu tersebut hanya kebetulan sebagai bagian dari fenomena alam, kami cukup terpukau……
“Betoh So’on” ada pada sisi sebelah kanan rest area (Kawasan hutan yang sengaja dijadikan tempat istirahat), yakni gugusan batu yang berjajar hampir sama tinggi dengan patahan yang sama pada bagian ujung atas, sehingga oleh entah siapa yang pertama kali menyebutnya dinamakan “Betoh So’on” (Batu Sunggi – Bhs Jawa).

Semua anggota rombongan (P. Juni, P. Herlan, P Saihu, Kusharyadi, Munir, Haryadi, Rico, Agung, Hendra, Januar) tampak tidak dapat menyembunyikan rasa heran bercampur kagum.

“Akhirnya sampai juga,” tukas ketua rombongan sembari melepas pegal dan penat. Di kawasan ini kami sempat istirahat untuk mengisi perut dengan bekal nasi bungkus yang sengaja kami bawa dan berpose dengan latar belakang yang pas.

Setelah dirasa pulih, kami lanjutkan perjalanan menuju lokasi air terjun yang konon tak kalah memukau. Setelah menempuh tanjakan dan turunan sejauh kira-kira satu kilometer sampailah kami di lokasi parkir air terjun. Namun sayang, karena tingkat kesulitan yang cukup tinggi, hanya sebagian yang nekad lanjut.

Atas petunjuk masyarakat setempat, 7 orang turun menyusuri jalan setapak yang hanya cukup dilewati satu orang. Rimbun semak belukar sepanjang perjalanan terasa cukup mengganggu. Pemandangan alam yang tampak masih sangat asri, belum terlalu banyak dijamah manusia terhampar di sepanjang ngarai yang kami lewati……

Woow….ternyata jalur yang kami lewati cukup ekstrim….melangkah menyusuri tebing curam yang sangat butuh konsentrasi, kehati-hatian dan stamina…

Namun sayang, belum sampai ke lokasi, mendadak hujan deras datang tanpa ampun, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan banjir dan longsor…..setelah beristirahat sejenak, kami putuskan untuk kembali sebelum sampai di tujuan.

Nah….perjalanan menuju area parkir inilah yang sangat melelahkan. Bagaimana tidak? Kami harus kembali naik- menaklukkan curamnya tebing …..tidak terhitung berapa kali jeda istirahat untuk sekedar mengatur ritme paru yang mulai tersengal…..setelah berupaya keras akhirnya sampai juga kembali ke area parkir.
Air terjun yang konon sangat eksotis tinggal cerita, apa daya cuaca dan stamina kurang mendukung, “Mudah-mudahan lain waktu bisa kembali dan nyampek,” pungkas Rico teregah-engah kehabisan oksigen…orang yang awalnya paling ngotot karena penasaran….(Munir- Pewarta BKD)

About munir

Lihat Juga

UPDATE DATA SIMPEG DAN BEZZETING, BKD UNDANG SELURUH OPERATOR OPD

bkd.bondowosokab.go.id. Data seluruh ASN Bondowoso dalam Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG) harus selalu dimutakhirkan, disesuaikan keadaan …